Laman

Senin, 29 Agustus 2011

Menyikapi Perbedaan Idul Fitri 1432 H. di Indonesia

Menyikapi
[Kemungkinan]
Perbedaan Idul Fitri
1432 H di Indonesia
Share 36
4
Alhamdulillaah, di
penghujung Ramadhan
1432 H ini, banyak sekali
diskusi mengenai
perbedaan
pelaksanaan Idul Fitri
1432 Halias
penetapan 1 Syawal
1432 Hyang
kemungkinan besar akan
berbeda. Perbedaan
semacam ini tentunya akan
menimbulkan sedikitnya
tanda tanya di kalangan
masyarakat awam. Bagi
mereka yang peduli
dengan ukhuwah atau
persatuan umat islam,
pertanyaan itu akan
semakin besar. Kapankah
kaum muslimini di negeri ini
bisa bersatu?
Umat islam adalah umat
yang satu, berhari raya
satu, tetapi tidak jarang
melakukan perayaan di
hari yang berbeda. Ironis.
Lalu, bagaimana kita mesti
menyikapi hal semacam ini?
Berikut adalah cuplikan
tulisan dari Ust. Hatta
Syamsudin yang bertajuk:
Inilah Alasan Saya
Berlebaran Mengikuti
Pemerintah.
Sumber Perbedaan
Potensi perbedaan
yang ada berkutat
antara tanggal 30
Agustus dan 31
Agustus saja,
dengan ragam
metode yang
digunakan.
Muhammadiyah
misalnya dengan
metode hisab dan
kriteria wujudul hilal,
jauh-jauh hari telah
mengumumkan Idul
Fitri 1432 H jatuh
pada Selasa 30
Agustus. Ormas
Persis menyusul
kemudian, dengan
metode hisab tapi
dengan kriteria
imkanurrukyah,
mereka
mengumumkan Idul
Fitri 1 Syawal jatuh
pada Rabu, 31
Agustus 2011.NU
yang memiliki metode
rukyatul hilal versi
lokal (ikhtilaful
mathla’), tentu
menunggu Senin
malam 29 Agustus
untuk memutuskan
kapan berhari raya,
meskipun di dalam NU
juga banyak pakar
hisab yang siap
‘legowo’ menerima
kriteria
imkanurrukyat.
Beberapa ormas
sepertiHTI yang
biasa mengikuti
rukyah global di
Saudi, juga akan
menunggu keputusan
ulama Saudi Senin
malam inysa Allah.
Meskipun jika dilihat
secara penghitungan
(hisab), -baik di
Indonesia maupun
Saudi – maka hilal
kemungkinan besar
tidak akan terlihat
sehingga Ramadhan
akan digenapkan
menjadi 30 hari, dan
lebaran pada 31
Agustus 2011.
Lalu bagaimana
dengan pemerintah ?
Sejak awal
pemerintah melalui
Kemenag dan MUI
akan
menyelenggarakan
sidang itsbat pada
akhir Ramadhan,
untuk menentukan 1
syawal 1432. Metode
yang digunakan
pemerintah adalah
menggabungkan
antara hisab dan
rukyatul hilal. Maka
berkaca dari
pengalaman
sebelumnya, hisab
dan serta hasil
rukyat (yang
diprediksi tidak akan
terlihat), hampir bisa
dipastikan keputusan
pemerintah 1 Syawal
1432 akan jatuh
pada 31 Agustus
2011.
Menyikapi Perbedaan
Lebaran
Tidak dipungkiri lagi
perbedaan Hari
Rayasedikit banyak
akan mengurangi
syiar ukhuwah dan
persatuan umat
Islam. Sementara
secara dalil dan
filosofisnya, idul fitri
adalah hari Raya
kaum muslimin yang
semestinya
memperlihatkan
ukhuwah dan
persatuan yang luar
biasa. Berhari raya
bersama banyak
orang adalah salah
satu anjuran syariah
kita, bukan dengan
sedikit orang apalagi
segelintir orang.
Riwayat hadist dari
Abu Hurairah
menyebutkan,
Rasulullah SAW
bersabda : “Puasa
adalah hari
dimana kalian
(orang-orang)
berpuasa, dan
hari raya
berbuka (idul
fitri-red) adalah
hari dimana
kalian (orang-
orang) berbuka
(dan berhari
raya )“. (HR Tirmidzi
dishahikan oleh
Albani). Sebagian
ulama menafsirkan
hadits di atas
dengan kesimpulan: “
bahwa berbuka dan
berhari raya itu
(haruslah) bersama-
sama jama’ah dan
sebagian besar
(orang-orang) kaum
muslimin.
Selain itu, beberapa
hadits seputar Idul
Fitri mengisyaratkan
bahwalebaran
adalah ibadah
yang merupakan
syiardan simbol,
dimana kebersamaan
dan ukhuwah menjadi
ciri khususnya. Lihat
saja bagaimana
tentang anjuran
sholat di lapangan
yang besar, juga
anjuran untuk
mengajak para
wanita bahkan
sekalipun mereka
dalam kondisi haid !
Ini menunjukkan
salah satu semangat
dalam beridul fitri
adalah
mengoptimalkan
kebersamaan.
Karenanya, jika ada
perbedaan dalam
penentuan idul fitri,
maka yang paling
banyak diikuti dan
bisa
menunjukkan
syiar dan
ukhuwah Islam
itulah yang layak
untuk diikuti,
dalam hal ini bisa
diwakili dengan
keputusan
pemerintah yang
biasanya diikuti
sebagian besar kaum
muslimin di Indonesia.
Jadi, Idul Fitri dan hari
raya umat islam
sebenarnya adalah hari
kebersamaan. Pemerintah
seharusnya lebih tegas
menjalankan fungsinya
sebagai hakim, penghilang
perbedaan. Sementara itu
para komponen ormas
islam, lebih legowo, bisa
menerima keputusan sang
hakim demi persatuan umat
dan tidak menetapkan 1
Syawal mendahului
keputusan pemerintah
yang sama-sama kita
angkat dan sepakati.
Wallahu a’lam. Semoga
bermanfaat Menyikapi
[Kemungkinan]
Perbedaan Idul Fitri
1432 H di Indonesia
Share 36
4
Alhamdulillaah, di
penghujung Ramadhan
1432 H ini, banyak sekali
diskusi mengenai
perbedaan
pelaksanaan Idul Fitri
1432 Halias
penetapan 1 Syawal
1432 Hyang
kemungkinan besar akan
berbeda. Perbedaan
semacam ini tentunya akan
menimbulkan sedikitnya
tanda tanya di kalangan
masyarakat awam. Bagi
mereka yang peduli
dengan ukhuwah atau
persatuan umat islam,
pertanyaan itu akan
semakin besar. Kapankah
kaum muslimini di negeri ini
bisa bersatu?
Umat islam adalah umat
yang satu, berhari raya
satu, tetapi tidak jarang
melakukan perayaan di
hari yang berbeda. Ironis.
Lalu, bagaimana kita mesti
menyikapi hal semacam ini?
Berikut adalah cuplikan
tulisan dari Ust. Hatta
Syamsudin yang bertajuk:
Inilah Alasan Saya
Berlebaran Mengikuti
Pemerintah.
Sumber Perbedaan
Potensi perbedaan
yang ada berkutat
antara tanggal 30
Agustus dan 31
Agustus saja,
dengan ragam
metode yang
digunakan.
Muhammadiyah
misalnya dengan
metode hisab dan
kriteria wujudul hilal,
jauh-jauh hari telah
mengumumkan Idul
Fitri 1432 H jatuh
pada Selasa 30
Agustus. Ormas
Persis menyusul
kemudian, dengan
metode hisab tapi
dengan kriteria
imkanurrukyah,
mereka
mengumumkan Idul
Fitri 1 Syawal jatuh
pada Rabu, 31
Agustus 2011.NU
yang memiliki metode
rukyatul hilal versi
lokal (ikhtilaful
mathla’), tentu
menunggu Senin
malam 29 Agustus
untuk memutuskan
kapan berhari raya,
meskipun di dalam NU
juga banyak pakar
hisab yang siap
‘legowo’ menerima
kriteria
imkanurrukyat.
Beberapa ormas
sepertiHTI yang
biasa mengikuti
rukyah global di
Saudi, juga akan
menunggu keputusan
ulama Saudi Senin
malam inysa Allah.
Meskipun jika dilihat
secara penghitungan
(hisab), -baik di
Indonesia maupun
Saudi – maka hilal
kemungkinan besar
tidak akan terlihat
sehingga Ramadhan
akan digenapkan
menjadi 30 hari, dan
lebaran pada 31
Agustus 2011.
Lalu bagaimana
dengan pemerintah ?
Sejak awal
pemerintah melalui
Kemenag dan MUI
akan
menyelenggarakan
sidang itsbat pada
akhir Ramadhan,
untuk menentukan 1
syawal 1432. Metode
yang digunakan
pemerintah adalah
menggabungkan
antara hisab dan
rukyatul hilal. Maka
berkaca dari
pengalaman
sebelumnya, hisab
dan serta hasil
rukyat (yang
diprediksi tidak akan
terlihat), hampir bisa
dipastikan keputusan
pemerintah 1 Syawal
1432 akan jatuh
pada 31 Agustus
2011.
Menyikapi Perbedaan
Lebaran
Tidak dipungkiri lagi
perbedaan Hari
Rayasedikit banyak
akan mengurangi
syiar ukhuwah dan
persatuan umat
Islam. Sementara
secara dalil dan
filosofisnya, idul fitri
adalah hari Raya
kaum muslimin yang
semestinya
memperlihatkan
ukhuwah dan
persatuan yang luar
biasa. Berhari raya
bersama banyak
orang adalah salah
satu anjuran syariah
kita, bukan dengan
sedikit orang apalagi
segelintir orang.
Riwayat hadist dari
Abu Hurairah
menyebutkan,
Rasulullah SAW
bersabda : “Puasa
adalah hari
dimana kalian
(orang-orang)
berpuasa, dan
hari raya
berbuka (idul
fitri-red) adalah
hari dimana
kalian (orang-
orang) berbuka
(dan berhari
raya )“. (HR Tirmidzi
dishahikan oleh
Albani). Sebagian
ulama menafsirkan
hadits di atas
dengan kesimpulan: “
bahwa berbuka dan
berhari raya itu
(haruslah) bersama-
sama jama’ah dan
sebagian besar
(orang-orang) kaum
muslimin.
Selain itu, beberapa
hadits seputar Idul
Fitri mengisyaratkan
bahwalebaran
adalah ibadah
yang merupakan
syiardan simbol,
dimana kebersamaan
dan ukhuwah menjadi
ciri khususnya. Lihat
saja bagaimana
tentang anjuran
sholat di lapangan
yang besar, juga
anjuran untuk
mengajak para
wanita bahkan
sekalipun mereka
dalam kondisi haid !
Ini menunjukkan
salah satu semangat
dalam beridul fitri
adalah
mengoptimalkan
kebersamaan.
Karenanya, jika ada
perbedaan datlam
penentuan idul fitri,
maka yang paling
banyak diikuti dan
bisa
menunjukkan
syiar dan
ukhuwah Islam
itulah yang layak
untuk diikuti,
dalam hal ini bisa
diwakili dengan
keputusan
pemerintah yang
biasanya diikuti
sebagian besar kaum
muslimin di Indonesia.
Jadi, Idul Fitri dan hari
raya umat islam
sebenarnya adalah hari
kebersamaan. Pemerintah
seharusnya lebih tegas
menjalankan fungsinya
sebagai hakim, penghilang
perbedaan. Sementara itu
para komponen ormas
islam, lebih legowo, bisa
menerima keputusan sang
hakim demi persatuan umat
dan tidak menetapkan 1
Syawal mendahului
keputusan pemerintah
yang sama-sama kita
angkat danua sepakati.
Wallahu a’lam. Semoga
bermanfaat

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar